Siapa sangka, julukan "Kota Kembang" yang melekat pada Bandung hingga kini ternyata lahir dari sebuah kisah dan momen tak terduga. Kembang yang dimaksud bukan bunga betulan.
Di balik keharuman nama itu, tersimpan cerita tentang para pengusaha perkebunan era kolonial pada akhir abad ke-19.
Awalnya Persaingan Pengusaha
Pada masa Hindia Belanda, Bandung dikenal dengan julukan "Parijs van Java" atau Paris-nya Pulau Jawa. Julukan ini tidak lepas dari peran para Preangerplanters, yakni pengusaha perkebunan teh terkemuka seperti Kerkhoven dan Bosscha.
Sementara itu, kota Malang menyandang sebutan "Holland Tropische Stad" dan didukung oleh para pengusaha gula atau "Suiker-Boer". Persaingan antara kedua kelompok pengusaha ini tak terhindarkan. Para Preangerplanters kerap mencibir rekan-rekan mereka dari Malang dengan sebutan petani udik.
Para pengusaha gula ingin membuktikan sendiri apakah Bandung benar-benar layak menyandang julukan Paris-nya Jawa. Rasa penasaran itu mendorong mereka merencanakan Kongres Para Pengusaha Perkebunan Gula pertama di Bandung.
Keputusan resmi dikeluarkan oleh "Bestuur van de Vereniging van Suikerplanter" (Pengurus Besar Perkumpulan Pengusaha Perkebunan Gula) yang berkedudukan di Surabaya. Tahun 1896 ditetapkan sebagai tahun pelaksanaan kongres pertama tersebut.
Meski terpilihnya Bandung sebagai tuan rumah adalah sebuah kehormatan, kepanitiaan dan warga kota justru dilanda kecemasan. Pada tahun 1896, Bandung belum layak disebut kota besar. Jalanan masih gelap dan berlumpur, penerangan hanya mengandalkan lampu minyak yang tidak menjangkau seluruh sudut. Populasi penduduknya tak lebih dari tiga puluh ribu jiwa, jauh lebih kecil dibanding Surabaya.
Lahirnya Julukan Bandung Kota Kembang
Warga khawatir para peserta kongres, terutama tamu dari Malang, tidak akan terpuaskan dengan pelayanan yang ada. Kegagalan menyelenggarakan kongres berarti kehilangan muka di hadapan para saingan.
Namun pertolongan datang dari arah tak terduga. Saat hari pelaksanaan tiba, Bandung dipenuhi rombongan peserta yang datang dengan konvoi mobil pribadi dan gerbong kereta api jurusan Surabaya–Bandung.
Yang paling menggemparkan adalah kedatangan serombongan gadis-gadis cantik desa yang turun gunung ke kota. Mereka datang untuk memeriahkan kongres yang sempat terancam gagal. Para peserta kongres pun merasa sangat senang dan terkesan.
Pemimpin rombongan gadis-gadis cantik itu tak lain adalah Wim Schenk dari Pasir Malang. Schenk adalah salah satu pemilik perkebunan paling awal di sekitar Bandung. Perkebunan Pasir Malang terletak tak jauh dari Perkebunan Malabar di daerah Pangalengan, sekitar lima puluh kilometer ke arah selatan Kota Bandung.
Sejak saat itulah, dari cerita-cerita yang beredar di antara peserta Kongres Pengusaha Perkebunan Gula pertama (1896), Bandung memperoleh julukan baru: "De Bloem der Indische Bergsteden" yang berarti "Kembangnya Kota Pegunungan di Hindia Belanda".
Julukan ini kemudian dipendekkan menjadi "Kota Kembang".
Namun perlu dicatat, "kembang" dalam julukan ini merujuk pada gadis-gadis cantik yang meramaikan kongres, bukan bunga dalam arti harfiah. Sebuah ironi sekaligus keunikan bahwa julukan ikonik Bandung justru lahir dari momen persaingan antarpengusaha dan kedatangan rombongan noni-noni cantik yang menyelamatkan sebuah acara besar.
Kini, setiap kali orang menyebut "Kota Kembang", ada kisah panjang tentang persaingan, kecemasan, dan kejutan yang menghiasi sejarah Bandung pada tahun 1896.
*
Foto: KITLV
