Ramen Sang Raja Mie di Jepang

mie ramen jepang
Foto: Japanology / Shutterstock.

Mengingat banyaknya bentuk, dalam beragam kaldu sebagai sup, dihidangkan panas atau dingin, dengan berbagai saus celup, orang Jepang membuktikan bahwa mereka dapat melakukan hampir segala hal dengan mie.

Ramen bisa dibilang raja mie di Jepang, dan mungkin dunia, meski merupakan bentuk terbaru dari mie Jepang. Mi tipis yang terbuat dari gandum ini disajikan dalam berbagai kuah, mulai dari shio (garam) dan shoyu (kecap) hingga tonkotsu (tulang babi) dan ramen gaya terbaru, miso.

Tak seperti mi Jepang lainnya, ramen hampir selalu disajikan panas, dan merupakan solusi cepat dan murah untuk mengatasi rasa lapar.

Baca juga: 5 Jenis Mie Jepang: Ramen, Soba, Udon, Yakisoba dan Somen

Meskipun semangkuk ramen dapat berisi banyak bahan yang berbeda, bahan rahasia dari mi itu sendiri adalah suatu bentuk air alkali yang dikenal sebagai kansui, aslinya berasal dari danau di Mongolia Dalam, yang konon memberi mi tekstur yang lebih padat. Telur sering diganti dengan kansui.

Terlepas dari keberadaannya di mana-mana, dan variasi bentuknya yang luar biasa, ramen adalah tambahan yang relatif baru dalam kuliner Jepang. Ramen diperkenalkan dari Tiongkok hampir lebih dari 100 tahun yang lalu. Mie ini dikenal sebagai shina soba atau soba Cina sampai tahun 1950-an, kemudian mendapat nama saat ini, pengucapan bahasa Jepang dari kata lamian Cina, yang secara harfiah berarti “mie tarik”, mengacu pada proses pembuatannya.

Namun kreasi tahun 1958 dari ramen instan oleh penemu Momofuko Ando yang membuat ramen menjadi favorit nasional, dan kemudian internasional. Ramen instan sangat disukai oleh orang Jepang sehingga pernah dipilih sebagai “penemuan Jepang terbesar abad ke-20”, sampai ada museum yang didedikasikan untuk ramen ini di Yokohama.