Di tengah menjamurnya coffeeshop di Bandung dengan konsep industrial modern atau minimalis estetik, kehadiran Subroto Kopi justru sempat mencuri perhatian karena tampil beda. Sejak awal kemunculannya, tempat ini sudah ramai dibicarakan warga Bandung, bukan hanya karena kopinya, tetapi juga suasana yang ditawarkan.
Subroto Kopi berdiri di area sebuah hotel tua yang membawa nuansa vintage yang terasa kuat. Bangunannya punya kesan lawas yang justru menjadi daya tarik tersendiri. Saat pertama kali hadir, konsep coffeeshop dengan memanfaatkan bangunan hotel jadul seperti ini pun belum terlalu banyak ditemui di Bandung. Ada rasa nostalgia yang langsung terasa begitu memasuki area tempat ini.
Memang, ukuran tempatnya enggak terlalu besar. Namun, area indoor-nya tetap nyaman buat duduk santai. Ruangannya adem, dengan interior bernuansa woody kecokelatan yang mengikuti karakter bangunan lamanya. Di beberapa sudut, pengunjung bisa menemukan dekorasi berupa vinyl hingga CD-CD penyanyi lawas yang semakin memperkuat atmosfer retro di dalamnya.
Sementara itu, area outdoor menjadi salah satu spot favorit untuk menikmati pagi atau sekadar nyore sore hari. Letaknya berada langsung di halaman hotel tua tersebut, membuat pengalaman ngopi terasa lebih santai dan berbeda dibanding coffeeshop kebanyakan.
Lalu, ada satu menu yang membuat nama Subroto Kopi makin sering muncul di media sosial, terutama di Threads, tentu saja soal dirty lattenya!
Sebelum membahas versi milik Subroto Kopi, sebenarnya apa itu dirty latte? Dilansir dari berbagai sumber, dirty latte merupakan minuman kopi berbasis susu dingin yang dituangkan espresso panas di atasnya tanpa langsung diaduk. Teknik ini membuat tampilan layer kopi dan susu terlihat jelas, sekaligus menghadirkan sensasi rasa yang berubah perlahan saat diminum.
Di Subroto Kopi, dirty latte mereka memang tampil menarik secara visual. Layer espresso dan susu terlihat jelas, membuat tampilannya tampak sederhana tetapi menarik.
Saat tegukan pertama, karakter espresso-nya terasa cukup bold. Namun uniknya, rasanya masih terasa “aman” dan enggak terlalu "menusuk" untuk penikmat kopi pemula. Setelah sensasi kopi yang kuat di awal, perlahan rasa minuman ini bertransisi menjadi manis alami dari susu segar yang creamy dan ringan.
Perpaduannya terasa lembut, segar, tetapi tetap punya karakter kopi yang jelas. Menariknya lagi, ada aftertaste fruity yang tertinggal di akhir, membuat pengalaman minumnya terasa lebih kompleks dan tidak membosankan.
Sayangnya, pada saat penulis mencoba dirty latte-nya, susunya terasa kurang dingin. Namun buat yang baru pertama kali mencoba dirty latte, menu ini bisa jadi pilihan yang pas. Tidak heran jika banyak orang membicarakannya di media sosial.
Hal lain yang membuat pengalaman ngopi di sini terasa unik adalah cara Subroto Kopi menyandingkan kopi dengan jajanan pasar. Di saat banyak coffeeshop biasanya memasangkan kopi dengan pastry, cheesecake, cookies, atau roti-roti modern, di sini pengunjung justru bisa menemukan teman ngopi berupa jajanan basah tradisional.
Kombinasi ini terasa sederhana, tetapi justru memberi pengalaman yang berbeda. Ada nuansa rumahan dan nostalgia yang muncul saat menikmati kopi modern berdampingan dengan jajanan pasar khas Indonesia.
Secara keseluruhan, nongkrong di Subroto Kopi bukan cuma soal menikmati kopi, tetapi juga menikmati suasana. Mulai dari bangunan vintage, ambience yang hangat, hingga dirty latte yang creamy dengan karakter espresso yang "ramah" di lidah, semuanya membuat tempat ini punya pengalaman tersendiri bagi para penikmat kopi di Bandung.
Kalau kalian sendiri, kapan mau coba nongkrong dan nyobain dirty latte di sini?




