Dari Jajanan Masa Kecil Menjadi Buruan Pagi Hari, Ini Dia Cerita di Balik Toko Kue Bantal

Bandung seolah enggak pernah kehabisan ide kalau urusan kuliner. Hampir setiap bulan selalu ada saja tempat baru yang menarik perhatian. Mulai dari coffeeshop dengan konsep unik, pastry atau kue kekinian, sampai makanan yang mendadak viral di media sosial.

Namun kali ini, yang mencuri perhatian bukanlah inovasi kuliner yang serba baru atau penuh sensasi. Justru sebaliknya! Ada sebuah tempat sederhana yang mengangkat kembali jajanan lama yang mungkin sudah akrab sejak masa kecil banyak orang.

Namanya Toko Kue Bantal, yang berlokasi di kawasan Jalan Sulanjana, Bandung.

Dari luar, tempatnya tidak terlihat mencolok. Ukurannya relatif kecil, lebih mirip sebuah stand dibandingkan toko roti besar. Konsep open kitchen yang diusung membuat pengunjung bisa melihat langsung proses pembuatan berbagai kudapan yang baru saja keluar dari penggorengan.

Sekilas, suasananya juga jauh dari kesan "tempat viral" khas Bandung yang identik dengan antrean mengular dan kerumunan orang sejak pagi. Namun jangan tertipu.

Kalau datang sedikit terlambat, ada kemungkinan besar kamu justru tidak kebagian juga loh!

Saat berkunjung, penulis mencoba satu porsi menu andalannya, yakni kue bantal seharga Rp15.000. Dalam satu porsi terdapat tiga buah kue bantal lengkap dengan cream sauce sebagai pendamping.

Lalu sebenarnya seperti apa kue bantal itu?

Bagi warga Bandung, tampilannya akan langsung mengingatkan pada odading. Kudapan tradisional ini dikenal sebagai roti goreng berbentuk kotak yang mengembang seperti bantal, dengan tekstur lembut di bagian dalam dan sedikit garing di luar. 

Mengutip dari Kompas.com, nama "odading" sendiri konon berasal dari ucapan seorang perempuan Belanda yang berkata, "O, dat ding?" atau "Oh, benda itu?" ketika melihat kue tersebut pada masa kolonial. Sebutan itu kemudian melekat hingga sekarang.

Namun versi yang dijual di Toko Kue Bantal terasa sedikit berbeda.

Teksturnya lebih chewy dan stretchy saat digigit. Bagian dalamnya juga terasa lebih ringan, tidak sepadat odading pada umumnya. Rongga-rongga adonannya terlihat lebih jelas sehingga menghasilkan sensasi mengunyah yang lebih lembut dan tidak terlalu mengenyangkan.

Taburan wijennya pun cukup melimpah. Selain menambah aroma harum, wijen tersebut memberikan sentuhan rasa nutty yang membuat setiap gigitan terasa lebih ada tekstur yang menarik.

Karena adonan dasarnya tidak terlalu manis, kehadiran cream sauce menjadi pelengkap yang pas. Rasa manis dari saus tersebut membantu menyeimbangkan karakter kue bantal yang cenderung sederhana.

Meski begitu, ada satu catatan kecil. Saat penulis mencobanya, kuenya terasa cukup buttery. Bagi sebagian orang mungkin akan terasa nikmat dan kaya rasa, tetapi bagi yang kurang menyukai sensasi oily yang dominan, teksturnya bisa terasa sedikit terlalu berminyak di lidah.

Enggak hanya menjual kue bantal, tempat ini juga menawarkan berbagai pilihan kudapan lain seperti aneka cakue dan bomboloni.

Sayangnya, ketika penulis datang, stok cakue sudah lebih dulu habis. Kondisi ini justru menjadi bukti bahwa meskipun tempatnya sederhana dan belum seramai destinasi kuliner viral lainnya, peminat Toko Kue Bantal ternyata tidak bisa dianggap remeh.

Pada akhirnya, daya tarik tempat ini bukan hanya soal rasa. Ada sesuatu yang menyenangkan ketika melihat jajanan tradisional yang selama ini identik dengan gerobak pinggir jalan diolah dan disajikan dengan sentuhan yang lebih modern tanpa kehilangan identitasnya.

Jadi, apakah Toko Kue Bantal layak dicoba? Ayo coba kamu buktikan sendiri!

Kalau kamu pencinta jajanan tradisional atau sekadar penasaran ingin mencicipi versi "naik kelas" dari odading, tempat ini bisa masuk daftar kunjungan berikutnya. Satu saran penting: datanglah lebih pagi. Sebab kalau kesiangan sedikit saja, bisa-bisa sudah kehabisan!


mbak-mbak humas penikmat kopi dan jalan kaki, serta pengagum barista tampan :)

Posting Komentar

© Kopi Bandung. All rights reserved. Developed by Jago Desain