
Kisah perjuangan Soekarno tak bisa dilepaskan dari Kota Bandung. Pada 1921, Soekarno yang baru saja menikah dengan Siti Oetari, putri HOS Tjokroaminoto, memutuskan untuk meninggalkan Surabaya dan merantau ke Kota Kembang.
Keputusan ini diambil untuk menuntut ilmu di Technische Hoogeschool te Bandoeng (THS), yang kini dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung (ITB). Di bawah saran Tjokroaminoto, Soekarno dan Oetari menumpang di rumah seorang saudagar dan aktivis Sarekat Islam bernama Haji Sanusi di sebuah rumah di Jalan Ciateul.
Di rumah inilah takdir mempertemukannya dengan sosok yang kelak sangat berpengaruh dalam hidupnya: Inggit Garnasih.
Anak Kuliah Kepincut Ibu Kos
Soekarno tercatat sebagai mahasiswa THS pada tahun 1920 hingga 1926, mengambil jurusan Teknik Sipil (weg en waterbouwkunde). Di kampus yang kini menjadi ITB, Soekarno dikenal sebagai mahasiswa yang tekun.
Meski sempat cuti kuliah selama beberapa bulan di tahun 1921 karena mertuanya, HOS Tjokroaminoto, ditahan, Soekarno kembali melanjutkan studinya pada 1922 dan berhasil meraih gelar insinyur pada 25 Mei 1926.
Selama menuntut ilmu, Soekarno tidak hanya disibukkan dengan buku-buku teknik. Di sinilah benih-benih nasionalisme dan pemikiran politiknya mulai tumbuh subur, meski sempat mendapat teguran dari rektor THS, Prof. Ir. G. Klopper, agar tidak terlalu terlibat dalam gerakan politik.
Hubungan Soekarno dan Inggit bermula dari hubungan yang rumit. Di satu sisi, Soekarno merasa tak bahagia dengan pernikahannya terhadap Oetari yang dinilainya masih kekanak-kanakan. Di sisi lain, Inggit juga tak bahagia dengan suaminya, Sanusi. Kedekatan di antara mereka akhirnya membuat Sanusi menceraikan Inggit dan merelakannya untuk dinikahi Soekarno.
Pada 24 Maret 1923, Soekarno yang saat itu berusia 22 tahun resmi menikahi Inggit yang saat itu berusia 35 tahun. Pernikahan yang terpaut usia jauh ini sempat mendapat restu dengan berat hati dari orang tua Inggit, yang khawatir perbedaan kelas sosial akan menghancurkan rumah tangga mereka.
Namun, kekhawatiran itu sirna seiring waktu. Di masa-masa sulit sebagai mahasiswa, Inggit rela berjualan kutang, bedak, meramu jamu, hingga menjadi agen sabun untuk memenuhi kebutuhan ekonomi.
Inggit adalah ilham dan pendorong utama bagi Soekarno. Dalam laporan saksi mata, dikatakan bahwa tanpa Inggit, pergerakan Soekarno terasa kurang. Saat Soekarno dipenjara, Inggit setia menjenguk dan menjadi penyambung lidah perjuangan rakyat untuk sang suami.
Lahirnya "Marhaen" dan Aktivisme di Bandung
Bandung adalah tempat di mana Soekarno menemukan jati diri ideologinya.
Setelah lulus, Soekarno menolak tawaran menjadi pegawai negeri sipil untuk Belanda sebagai bentuk sikap nonkooperatif. Ia memilih menjadi guru di Ksatrian Institut pimpinan Douwes Dekker, meskipun hanya bertahan empat bulan karena dianggap "terlalu bersemangat" dalam mengajar. Di sinilah kesadaran itu muncul, kalau Soekarno terlahir bukan sebagai guru, melainkan sebagai seorang pembicara dan pemimpin massa.
Pada 4 Juli 1927, di sebuah paviliun rumahnya di Regentweg 22 (kini Jalan Dewi Sartika), Soekarno bersama kawan-kawan mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI).
Marhaenisme adalah ideologi politik sosialis yang berasal dan dikembangkan oleh Sukarno. Ideologi ini dikembangkan dari gagasan Marxisme yang diterapkan sesuai dengan sifat dan budaya Indonesia, atau secara sederhana digambarkan sebagai "Marxisme yang disesuaikan dengan kondisi Indonesia".
Marhaenisme merupakan varian Marxisme tetapi menekankan persatuan nasional, budaya, ekonomi kolektivis, dan hak-hak demokrasi serta mengutuk liberalisme dan individualisme. Ideologi ini didirikan sebagai ideologi anti-kapitalis dan anti-imperialis. Marhaenisme merupakan ideologi utama PNI.
Nama ideologi tersebut konon berasal dari nama seorang petani yang menurut Sukarno pernah ditemuinya di dekat Bandung. Namun, klaim Sukarno tersebut sering dipertanyakan. Istilah "Marhaen" telah digunakan oleh Sarekat Islam untuk menggambarkan orang biasa jauh sebelum Sukarno pergi ke Bandung.
Sukarno mulai menyebut anggota kelas agraris sebagai "Marhaen" sejak pidatonya Indonesia Menggugat pada tahun 1930, untuk menggantikan istilah proletariat yang menurutnya sebagian besar tidak relevan dengan Indonesia.
Rumahnya menjadi basis utama pergerakan. Ia dan Inggit berkeliling Bandung dan sekitarnya untuk menyampaikan pendidikan politik dalam bahasa Sunda, yang membuatnya sangat akrab di hati rakyat. Kedekatan inilah yang melahirkan sapaan akrab yang melegenda hingga kini: Bung Karno.