Al-Suli: Master Catur di Masa Keemasan Islam

al suli master catur patung ashgabat

Banyak yang pernah mendengar nama-nama besar dalam sejarah catur seperti Bobby Fischer, Garry Kasparov, Anatoly Karpov, dan Magnus Carlsen. Tetapi pernahkah mendengar nama al-Suli?

Al-Suli, seorang master catur terkemuka dari abad ke-10, memainkan peran penting dalam pengembangan catur modern dan dianggap sebagai salah satu juara pertamanya. 

Beberapa orang menganggapnya sebagai "Grandmaster" catur pertama dalam sejarah. Jadi, siapakah sosok ini?

Sejarah Catur

Catur memiliki sejarah hampir 1.500 tahun, dimulai dari chaturanga di India. Kemudian berkembang menjadi shatranj di Persia, di mana bentuk dan aturannya berubah. 

Setelah penaklukan Persia oleh bangsa Arab pada abad ke-7, catur menyebar ke dunia Muslim dan akhirnya ke Eropa melalui Spanyol dan Italia pada abad ke-9 atau ke-10, dengan jalur lain melalui Konstantinopel dan Rusia. 

Di Eropa abad pertengahan, catur Catur dimainkan di biara-biara dan di istana-istana bangsawan, dan berkembang menjadi bentuknya yang sekarang sekitar tahun 1500 M.

Bangsa Arab memainkan peran kunci dalam menyebarkan dan menyempurnakan aturan dan strategi permainan ini.

Kemunculan tiba-tiba literatur catur khusus selama periode Abbasiyah dan popularitas permainan ini menunjukkan bahwa catur telah diterima lebih awal, meskipun hubungan Persia dari dinasti tersebut memainkan peran kecil. 

Pada abad ke-12, aturan baru diperkenalkan, seperti kemampuan untuk memindahkan pion dua petak pada langkah pertamanya, yang mempercepat perkembangan catur modern. Transformasi ini juga mencakup perubahan dalam pergerakan bidak, membuat permainan lebih dinamis dan strategis. Sungguh menakjubkan melihat tingkat permasalahan dan analisis catur pada masa itu. 

Bagaimanapun, para cendekiawan Muslim memainkan peran utama dalam membawa permainan catur ke Eropa dan menyebar ke seluruh dunia. 

Dilansir dari Arabic For Nerds, Al-Suli lahir pada tahun 880 di Gorgan, Iran saat ini, dan meninggal pada tahun 946 di Basra di Irak. Sejarawan mengakui Al-Suli sebagai salah satu pemain terbaik Shatranj, bentuk catur modern kuno.

Abu Bakar al-Suli Muhammad ibn Yahya ibn Abdullah adalah seorang ulama terkemuka abad ke-10 pada masa Kekhalifahan Abbasiyah, yang memerintah dari 750 hingga 1258 M. Mereka memperoleh kekuasaan dengan menggulingkan Kekhalifahan Umayyah dan menjadikan Bagdad sebagai ibu kota.

Kekuasaan mereka berakhir ketika bangsa Mongol menjarah Baghdad pada tahun 1258. Nama Al-Suli berasal dari kakeknya, Sul, yang memerintah di Gorgan, sebuah kota di timur laut Iran yang sebelumnya bernama Astarabad.

Baca juga: Dari Qahwa ke Kopi, Ketika Minuman Para Sufi Mendunia

Al-Suli Sang Ahli Strategi

strategi al suli catur
Salah satu teka-teki catur Al-Suli yang tak terpecahkan selama seribu tahun.

Pada masa Al-Suli, dunia Islam berkembang secara intelektual dan budaya. Kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad merupakan pusat pembelajaran. Para khalifah mendukung seni dan ilmu pengetahuan, termasuk catur. Al-Suli berkesempatan bermain melawan tokoh-tokoh penting pada zamannya, termasuk para khalifah, yang menunjukkan keahlian dan kecerdasannya yang luar biasa. 

Setelah Khalifah al-Radi meninggal pada tahun 940, Al-Suli kehilangan dukungan dari penguasa baru karena keyakinan Syiahnya, yang menyebabkan kemarahan publik ketika ia mengutip Ali ibn Abi Talib. Baik kalangan elit maupun publik menginginkan kematiannya. Al-Suli meninggal pada tahun 947 (336 H) saat bersembunyi di Basra.

Al-Suli menjadi terkenal karena keahlian caturya antara tahun 902 dan 908 ketika ia mengalahkan pemain catur terkenal al-Mawardi dalam pertandingan yang dihadiri oleh Khalifah al-Muktafi. Meski Khalifah lebih menyukai al-Mawardi, keahlian luar biasa al-Suli menghasilkan kemenangan telak yang membuat Khalifah terkesan. Khalifah al-Radi juga mengagumi gaya bermainnya.

Suatu hari, di sebuah taman yang indah, Khalifah bertanya kepada para sahabatnya apakah mereka pernah melihat sesuatu yang lebih indah. Mereka memuji taman itu, tetapi Khalifah menjawab bahwa permainan catur al-Suli lebih baik daripada apa pun yang mereka sebutkan. 

Kita memiliki bukti dokumenter yang terbatas tentang kehidupan catur beliau, tetapi beberapa permainan akhir dan studi beliau masih ada, dan rekan-rekannya mengakui kemampuan mundur beliau yang luar biasa. Al-Suli mengajar catur, terutama kepada al-Lajlaj.

Dia menulis Kitab Al-shantraj, teks ilmiah pertama tentang permainan akhir dan strategi, membahas pembukaan terkenal, masalah permainan tengah yang umum, dan permainan akhir, termasuk masalah ksatria.

Al-Suli sebagai seorang pemain ulung tetapi juga seorang komposer masalah dan studi catur. Al-Suli menulis tentang sebuah masalah yang ia sebut Permata Al-Suli yang tetap tidak terpecahkan selama seribu tahun. 

Masalah tersebut akhirnya dipecahkan oleh Grandmaster catur Rusia Yuri Averbakh pada tahun 1980-an. 

Kisah Al-Suli adalah gambaran menarik tentang sejarah catur dan kontribusi peradaban Arab-Islam. Keahliannya dalam Shatranj dan pengaruhnya terhadap literatur catur telah sangat mempengaruhi perkembangan permainan ini.

*

Foto: Unfiltered Travelling. 

Pekerja teks komersial, juga mengulik desain visual dan videografi. Pop culture nerd dan otaku dengan kearifan lokal

Posting Komentar

© ‧ Kopi Bandung. All rights reserved. Developed by Jago Desain